Jumat, 30 Juli 2010

Sendirian itu Tidak Menyenangkan

Dulu saya pikir hidup sendirian itu menyenangkan. Segalanya dilakukan sendiri, gak ada yang interupsi dengan kasih masukan, menasehati, dan sejenisnya. Bekerja untuk diri sendiri, tidak perlu memikirkan kehidupan orang lain, dalam kasus ini adalah istri dan anak (anak-anak), tidak ada beban untuk hidup. Sepertinya. Pemikiran ini berdasarkan pengalaman saya menonton film "About a Boy", walaupun akhirnya Will, tokoh di film itu, menyadari bahwa hidup sendiri itu sebuah kesalahan, bahwa dia akhirnya membutuhkan seseorang, Marcus.

Tapi yang namanya kodrat, manusia sebagai makhluk sosial, tidak bisa dipungkiri kebenarannya. Sebagai manusia yang normal, manusia tetap membutuhkan manusia yang lain. Sebagai teman, sahabat, kekasih, juga istri dan anak-anak untuk tingkatan hidup selanjutnya. Semua itu membuat hidup mempunyai tujuan, berbeda saat hidup seorang diri saja. Saat berada dalam kebahagiaan, saya menyadari bahwa bahagia sendirian itu seperti orang gila. Sebuah perasaan harus dibagi, tidak untuk disimpan seorang diri. Begitu juga saat berada dalam kesedihan, berdiri di titik nadir sebagai seorang manusia, sendirian adalah hal yang sangat tidak menyenangkan. Tidak ada yang memberikan pelukan, tepukan di pundak, atau kata-kata yang menyenangkan, menghibur. Dan itu semua menambah derita itu sendiri.

I hate that truth!

Kenyataannya, saya masih sendiri hingga saat ini. Tidak ada teman makan, tidak ada teman bepergian, tidak ada teman berbagi cerita, juga tidak ada seseorang untuk berbagi cinta. So pathetic...

So lonely inside, so lonely out there.

Yogyakarta,
25 Juli 2010, 05:02 PM