Beberapa bulan belakangan adalah titik nadir kehidupan saya sejauh yang bisa saya ingat. Dan sejauh yang saya ingat juga, tidak ada teman yang benar-benar ada di sisi saya. Mungkin ada beberapa, tapi mereka tak pernah benar-benar ada.
Entah mengapa ini selalu terjadi. Saya selalu merasa sendiri. Seperti iklan itu, "sepertinya, teman-teman malu bermain denganku," begitulah yang saya rasakan selalu. Kenapa saya tidak pernah mempunyai teman sejati? Yang selalu ada saat saya membutuhkannya, begitu juga sebaliknya. Kata mereka saya kurang membuka diri, tapi saya tidak mengerti dengan istilah "membuka diri". Apakah itu berarti saya harus menceritakan apa adanya diri saya dengan mereka? Atau saya harus melakukan apa yang mereka lakukan tanpa mempunyai batasan kelakukan?
Masa kecil saya menyenangkan, paling tidak demikian yang mereka katakan. Semua-semua ada, tidak perlu sampai meminta. Hal inilah yang membuat saya kemudian kurang bisa menerima keadaan apa adanya. Semua harus sesuai yang saya pikirkan dan inginkan. Hingga sekarang, saat ada sesuatu yang tdak berjalan seperti yang saya rencanakan, saya akan berhenti di tengah jalan. Tidak pernah diselesaikan.
Masa kecil saya juga banyak aturan. Gak boleh ini, gak boleh itu. Semuanya apa kata mama. Setelah dewasa, saya baru tahu kalau itu semua karena mama saya memikul tanggung jawab ganda, sehingga selalu khawatir kalau ada apa-apa dengan anaknya. Akibatnya sampai sekarang saya selalu ragu saat akan melakukan sesuatu. Apakah ini boleh? Apakah itu benar? Apakah kalau saya melakukan ini semua akan baik-baik saja? Hal yang paling saya ingat dari keterbatasan masa kecil saya, adalah di kala saya ingin mencoba gimana sih rasanya berenang di pantai? Dan itu baru saya lakukan saat saya kelas 2 SMA. Tentu saja tanpa ijin dulu pada mama saya. Saya melakukan petualangan bersama teman-teman dengan naik sepeda 30 km lebih jauhnya. Menyenangkan. Itu salah satu contohnya. Sehingga sepertinya, masa hidup saya selalu delay, istilahnya. Selalu terlambat. Saat orang lain sudah pernah merasakan dan mencoba sesuatu yang baru dalam hidupnya, saya masih jalan di tempat saja.
Masa kecil saya menyenangkan? Iya, karena selalu berada di zona nyaman. Hingga sekarang, kebiasaan dan pengaruh itu belum hilang.
Tentu saja saya tidak bisa kembali ke masa lalu untuk kemudian memperbaiki semuanya. Seperti kata orang bijak, yang harus saya lakukan adalah memulai sesuatu yang baru saat ini. Tapi saat saya melangkah untuk memulai sesuatu yang baru, masa lalu saya selalu membayangi dan membuat saya kembali ragu. Apakah ini memang yang seharusnya saya lakukan? Apakah ini nantinya benar di mata orang tua saya (terutama mama saya)? Oleh karenanya saya jarang menyelesaikan sesuatu, kecuali selesai membaca sebuah buku.
Memang benar kata orang, kalau masa kecil itu menentukan segalanya di masa yang akan datang.
Masa kecil saya bahagia? Saya sudah lupa. Saya hanya ingat hal-hal yang berdampak langsung pada kehidupan saya di masa sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar